Photo
from our pinterest board: http://pinterest.com/pin/29625310019118732/

from our pinterest board: http://pinterest.com/pin/29625310019118732/

Video

Jani adalah seorang suporter yang menggunakan Wujudkan sebagai sarana berperan aktif dalam karya kreatif yang ia suka. Bagaimana cara Jani melakukannya? Yuk tonton video ini.

Video

Joni adalah seorang kreator yang menggunakan Wujudkan sebagai sarana menggalang dana. Bagaimana cara Joni melakukannya? Yuk tonton video ini.

Text

Catatan Atambua 39° Celsius - hari-hari berikutnya

Text

Catatan Atambua 39° Celsius - 10 hari pertama (a storify by Mira Lesmana)

  1. Ini catatan perjalanan shooting tahap pertama film Atambua 39° Celsius. Kenapa tahap pertama, karena kami masih membutuhkan dana untuk bisa menyelesaikan film ini dengan shooting tahap kedua dan tahap pasca produksi. Untuk teman-teman yang ingin melihat film ini selesai, bantu kami yuk dengan memberi dukungan di wujudkan.com
  2. Hari 1, 27 Maret 2012

  3. Share
    Boarding! Destination Kupang :) @MilesFilms akan shooting tahap pertama film Atambua 39d Celsius…doakan lancar ya teman2 :D
    Mon, Mar 26 2012 18:58:47
  4. Share
    Touch down El Tari Airport, Kupang, Timor - now 6 to 7 hours more of driving to reach Atambua. The road trip begins ;) #atambua39dCelsius
    Mon, Mar 26 2012 22:26:44
  5. Share
    Aaaah…langit begitu biru di Tanah Timor!! #atambua39dCelsius http://lockerz.com/s/196117139
    Tue, Mar 27 2012 01:25:34
  6. Share
    Berhenti sejenak di Soe dlm perjalanan ke #atambua - our PA @lizanazira membelah sirsak buat kami :D http://lockerz.com/s/196135238
    Tue, Mar 27 2012 03:23:48
  7. Share
    Indahnya senja di Belu, dari jendela mobil kami… #no_filter #atambua http://instagr.am/p/Iq_rMTmnJu/
    Tue, Mar 27 2012 06:02:44
  8. Share
    Sunset at Belu today… #atambua http://instagr.am/p/IrXNp8GnMX/
    Tue, Mar 27 2012 09:28:25
  9. Hari 2, 28 Maret 2012

  10. Share
    Good morning from #atambua - Timor, NTT http://instagr.am/p/IsimmXmnJL/
    Tue, Mar 27 2012 20:27:10
  11. Share
    Script reading with our actors of ATAMBUA 39° CELSIUS #atambua http://instagr.am/p/IsuCPVGnMA/
    Tue, Mar 27 2012 22:07:04
  12. Share
    Deadly romantic! - workhop with our actors of #ATAMBUA 39° CELSIUS http://instagr.am/p/Is47NhGnNt/
    Tue, Mar 27 2012 23:44:07
  13. Share
    I love this place so much… ❤ #atambua http://instagr.am/p/ItN-mTGnAM/
    Wed, Mar 28 2012 02:46:12
  14. Share
    Director @rizariri choosing an angle… #ATAMBUA 39° CELSIUS http://instagr.am/p/ItduBrGnCJ/
    Wed, Mar 28 2012 05:03:44
  15. Hari 3, 29 Maret 2012
  16. Share
    Shooting dogma style…gak ada scaffolding, tong-pun jadi ;) *colek @gunnarnimpuno #ATAMBUA 39° CELSIUS http://instagr.am/p/Iv9FYWmnMQ/
    Thu, Mar 29 2012 04:16:32
  17. Share
    Tim terakhir @MilesFilms utk film #ATAMBUA 39° CELSIUS tlh tiba di Timor. Kru kami hanya 13 org dgn 10 dukungan kru lokal..siap bekerja! :)
    Thu, Mar 29 2012 09:28:58
  18. Hari 4, 30 Maret 2012

  19. Share
    We are working here peacefully… #Atambua 39° Celsius http://instagr.am/p/Ix5GCrGnAA/
    Thu, Mar 29 2012 22:23:09
  20. Share
    Meet our leading actor for #Atambua 39° Celsius ;) - w/ Director @rizariri http://instagr.am/p/IyXUzamnEQ/
    Fri, Mar 30 2012 02:44:07
  21. Hari 5, 31 Maret 2012

  22. Share
    Good morning from #atambua …a hot morning here! :) http://instagr.am/p/I0RSTimnHC/
    Fri, Mar 30 2012 20:31:04
  23. Share
    Masih pagi gini puanasnya udah gilaaaa! Ini ide siapa ya bikin film ada 39° Celsius-nya?? *melototin @rizariri :p #atambua
    Fri, Mar 30 2012 21:21:08
  24. Share
    They don’t have electricity…but they’ve got each other 😂 #atambua http://instagr.am/p/I1MklTmnAu/
    Sat, Mar 31 2012 05:07:49
  25. Hari 6, 1 April 2012

  26. Share
    Berada di tengah2 perayaan Minggu Palma di Desa Haliwen, #Atambua #Timor NTT - cantiiiik banget!! :))
    Sat, Mar 31 2012 20:04:25
  27. Share
    Perayaan Minggu Palma di Desa Haliwen - #Atambua 39° Celsius http://instagr.am/p/I3g__GGnBe/
    Sun, Apr 01 2012 02:46:16
  28. Share
    Perarakan warga desa Haliwen di Minggu Palma… #atambua http://instagr.am/p/I3lf__GnCT/
    Sun, Apr 01 2012 03:29:16
  29. Share
    Grand mother & grand daughter…waiting for Palm Sunday mass - #atambua http://instagr.am/p/I3oaDxmnCv/
    Sun, Apr 01 2012 03:52:54
  30. Share
    On location of #ATAMBUA 39° CELSIUS - Director @rizariri & DOP @gunnarnimpuno http://instagr.am/p/I30_BlmnEY/
    Sun, Apr 01 2012 05:39:27
  31. Hari 7, 2 April 2012

  32. Share
    Di kolong rumah Orang kemak @lizanazira Bhre @gunnarnimpuno & @rivanos istirahat sejenak - #atambua http://instagr.am/p/I6DSHzGnAn/
    Mon, Apr 02 2012 02:30:23
  33. Share
    Dibalut kain Timor: Saya & @lizanazira - the only two women crew in #Atambua 39° Celsius http://instagr.am/p/I6RJYxGnBL/
    Mon, Apr 02 2012 04:30:43
  34. Hari 8, 3 April 2012
  35. Share
    Selamat pagi semuaaa…matahari bersinar cerah di Timur Indonesia! Stand by….roll camera! :) #atambua
    Mon, Apr 02 2012 21:10:18
  36. Share
    Good morning from our location tweeps & #igers ! Menurut lo ini @rizariri lg ngapain..? :p #atambua http://instagr.am/p/I8KG1lmnFn/
    Mon, Apr 02 2012 22:02:52
  37. Share
    HELP! Our director @rizariri is falling asleep on the set! @gunnarnimpuno pass the coffee pls! :p #atambua http://instagr.am/p/I8qtSYmnNF/
    Tue, Apr 03 2012 02:48:03
  38. Share
    Thick clouds above Haliwen, #atambua …hope it’s not going to rain. Btw, can you spot the dragonfly..? :) http://instagr.am/p/I8v27yGnNf/
    Tue, Apr 03 2012 03:30:51
  39. Share
    This is the hand of an 80 yrs old man…look at his beautiful accessories! #atambua http://instagr.am/p/I9K5BbmnAg/
    Tue, Apr 03 2012 07:30:46
  40. Share
    Lihat crew @MilesFilms di atas sana sore tadi! :) #Atambua 39° Celsius http://instagr.am/p/I9YEm-mnDC/
    Tue, Apr 03 2012 09:22:27
  41. Hari 9, 4 April 2012

  42. Share
    Selamat pagi teman2 :) Our 1st AD @rivanos is playing with the wind… :p #atambua http://instagr.am/p/I-zO4ZmnJc/
    Tue, Apr 03 2012 22:39:50
  43. Share
    The sun is bursting in #atambua http://instagr.am/p/I—VNcGnMj/
    Wed, Apr 04 2012 00:16:30
  44. Share
    Street seller on the street of #atambua …do you know what he’s seliing? http://instagr.am/p/I_TiLEmnBt/
    Wed, Apr 04 2012 03:21:55
  45. Share
    Sneak preview for my twitter & IG friends: Three of our Timorese actors of #Atambua 39° Celsius ;) http://instagr.am/p/I_j-JZmnD9/
    Wed, Apr 04 2012 05:44:54
  46. Share
    Do you feel like jumping…? http://instagr.am/p/I_wCU4mnFV/
    Wed, Apr 04 2012 07:30:08
  47. Hari 10, 5 April 2012

  48. Share
    Good morning good people :) #atambua http://instagr.am/p/JBO761mnAj/
    Wed, Apr 04 2012 21:19:24
  49. Share
    3 G sedang galau di #atambua :/
    Thu, Apr 05 2012 01:37:14
  50. Share
    The children of Haliwen with @rizariri #atambua http://instagr.am/p/JByM2WmnLd/
    Thu, Apr 05 2012 02:27:42
  51. Share
    At the market in #atambua …some awesome stuff ;) http://instagr.am/p/JCEdT_mnOo/
    Thu, Apr 05 2012 05:08:01
  52. Share
    Perempuan penjual pinang sirih ini cool banget!! :p #atambua http://instagr.am/p/JCHE0BmnPC/
    Thu, Apr 05 2012 05:30:46
  53. Share
    Capturing the beautiful & romantic scenery from my car window… #atambua http://instagr.am/p/JCX9kYmnBW/
    Thu, Apr 05 2012 08:00:09
Text

Gunung Itu Tetap Tinggi, Bendera Kita Juga Masih Berkibar (Sebuah Catatan Tentang Ibu Soed)

(Bagian 2 - selesai)

Ibu Soed bertanya lagi, “Tadi, waktu ke sini, Prima ingat sempat lihat apa saja di jalan?” Saya menjawab, “Banyak, tapi engga ingat betul bu. Maksudnya apa ada yang spesifik atau tidak.” Ibu Soed mengangguk, “Itu biasa, kalau kita rasa sudah jelas mau kemana, kita sering jadi tidak mengamati perjalanannya karena lebih fokus ke tujuannya kan?” Saya mengangguk setuju. Di titik ini saya tahu betul narasumber saya jelas ada di kelas ‘berat’ kalau tidak mau dikatakan sudah moksa atau satu angkatan dengan tokoh fiktif pujaan saya, Yoda. “Ibu kepingin sekali anak-anak Indonesia itu selalu belajar dari hal-hal yang dekat sekali dengan kehidupan mereka sehari-hari, entah itu hujan, atau kupu-kupu yang kalau tidak kita perhatikan mungkin sulit kita pahami di mana lucunya, atau ketika jalan-jalan mendaki gunung daripada dibebani target karena puncak gunungnya masih jauh, kan lebih baik menikmati perjalanannya? Toh, lama-lama akan sampai?” Papar ibu Soed lagi. Saya sudah kehilangan niat membombardir beliau dengan rentetan pertanyaan, narasumber saya itu dengan murah hati dan suka rela justru mengundang saya ke alam pikirnya yang sedemikian kaya dan seolah tidak bertepi.       

Di menit-menit berikutnya ibu Soed mengisahkan impiannya melihat anak-anak Indonesia bisa menyanyikan lagu dalam bahasa Indonesia dengan hati gembira dan bersemangat. “Jadi, ibu akan pilihkan kata-kata yang bisa dinyanyikan dengan jelas, mudah dipahami dan mudah diingat oleh semua anak Indonesia. Bisa dinyanyikan sendirian, juga bisa dinyanyikan sama-sama. Karena lagu ibu itu memang untuk dinyanyikan siapa saja, bukan hanya oleh penyanyi. Lagu yang dibuat untuk penyanyi hanya bisa dinyanyikan sedikit orang, yang lainnya (yang tidak bisa menyanyi-ed.) hanya bisa ikut menikmati,” jelas beliau lagi. Mengingat kembali percakapan saat itu, saya menangkap maksud ibu Soed untuk menjelaskan sejumlah pemikiran konseptual seperti ‘kebersamaan’, ‘nilai’, ‘kesetaraan’, ‘keragaman’, ‘multi-kulturalisme’, ‘patriotisme’ tanpa sekalipun beliau menggunakan istilah-istilah hebat itu. Jiwa pendidik di dalam diri ibu Soed lebih ingin memastikan wartawan magang/mahasiswa seperti saya memahami inti dari pemikiran beliau untuk kemudian menyarikannya ke dalam bahasa saya. Berapa sering seorang ‘anak magang’ diberikan ruang seluas apa yang pernah diberikan sosok ibu Soed kepada saya? Dan percayalah saya cukup bodoh dan perlu waktu amat panjang untuk tiba di tingkatan apresiasi terhadap sikap yang diabadikan melalui karya-karya ibu Soed.

Beberapa tahun setelah percakapan tersebut, saya mendapat kabar beliau berpulang. Di kisaran kurun waktu yang sama, saya baru menyadari bahwa lagu Naik Becak diciptakan ibu Soed di 1942. Sebuah tahun yang muram akibat dominasi Jepang di Asia Tenggara, di tahun itu pula pemerintahan Hindia Belanda menyerah pada Jepang. Sadar atau tidak, ibu Soed memilih menawarkan optimisme pada anak-anak Indonesia dengan bertamasya naik becak, yang digambarkannya sebagai ‘kereta tak berkuda’. Bahkan keganasan perang pun rupanya tak boleh merampas keriangan dunia anak-anak versi ibu Soed. Pilihan cara pandang ibu Soed yang memihak pada dunia anak-anak di tengah perang/tekanan ini jauh lebih dahulu dari apa yang dilakukan Roberto Benigni di film Life is Beautiful (1997).  Ibu Soed yakin bahwa keceriaan anak-anak Indonesia adalah modal untuk bisa tetap optimis dan mampu melakukan beragam hal positif, sejak bangun tidur di pagi hari-silakan simak cuplikan syair Pergi Belajar,“O Ibu dan Ayah selamat pagi, ku pergi belajar sampai kan nanti..” Keceriaan pula yang menurutnya membuat sosok anak bisa menghargai diri sendiri dan orang lain, termasuk orang tua, guru dan kawan-kawannya. Ibu Soed menempatkan sosok setiap anak Indonesia sebagai bagian dari lingkungan sosial yang lebih besar, bisa sebagai tokoh anak dari sebuah keluarga, atau kawan, atau sosok yang harus mencapai tujuan dengan berinteraksi dengan orang lain seperti pengemudi becak. 

Sosok ‘kawan’ juga penting bagi ibu Soed seperti ketika beliau mengguratkan lagu Berkibarlah Benderaku. Lagu ini terinspirasi oleh perjuangan salah satu kawan ibu Soed, (alm.) Joesoef Ronodipoero kala mempertahankan kibaran bendera merah putih di gedung stasiun Radio Republik Indonesia pada agresi Belanda pertama di 1947. Ibu Soed juga memainkan biola mengiringi pagelaran perdana lagu Indonesia Raya ciptaan sahabat beliau, W.R. Soepratman di kongres Pemuda pertama di 1928. Bila kita renungkan kembali, sosok seorang perempuan yang kelak kita kenal sebagai ‘ibu Soed’ ini, alangkah mudah baginya untuk terperangkap di dalam zaman yang memungkinkannya ‘sekedar’ ikut-ikutan berkarya melalui seruan-seruan propaganda atau melakoni peran ‘just the girl among the guys’ sesuai dengan kondisi saat itu, dan juga karena pergaulannya dengan sejumlah musisi besar seperti Cornel Simandjuntak, Ismail Marzuki,  W.R. Soepratman.  Jelas ia mendukung kawan-kawannya membunyikan genderang perang, namun ibu Soed memastikan di lini ‘belakang’, di pekarangan rumah-rumah keluarga Indonesia, anak-anak Indonesia senantiasa ceria, bebas dari rasa takut, dan menjadi pandai dari kejelian mengamati hal-hal di sekitar mereka, serta tak pernah melupakan tempat kaki-kaki mereka berpijak seperti di Desaku atau juga Tanah Airku yang sanggup membuat kita bergidik setiap kali mendengar lantunan lagu ini. Pilihan sikap ibu Soed telah menjadikan anak-anak Indonesia, termasuk Anda dan saya-punya suara yang setara.  

Hari ini, sekian tahun setelah kepergian beliau, sudah sepantasnya kita ikut mengurus warisan tak ternilai dari ibu Soed bagi anak-anak Indonesia. Kenapa? Karena, ada sisi dan kualitas terbaik dari kita (baca: orang Indonesia) seperti sederhana, riang hati, bersemangat pantang menyerah, serta bisa menerima dan menghargai perbedaan, yang senantiasa terangkum di dalam lagu-lagu ciptaan ibu Soed yang bisa dengan mudah kita pahami dan praktikkan dengan ikhlas tanpa kening berkerut apalagi rasa terpaksa.   



oleh Prima Rusdi, penulis skenario film


Dukung album Popzzle, Tribute to Ibu Soed, dan berikan kesempatan anak-anak kita mendengarkan lagu sesuai usia mereka.

Text

Gunung Itu Tetap Tinggi, Bendera Kita Juga Masih Berkibar (Sebuah Catatan Tentang Ibu Soed)

55341867

(Bagian I)

Di hari lahir saya yang ke empat belas, (alm.) ayah menghadiahkan sebuah buku lawas berjudul Interview with History yang ditulis oleh jurnalis legendaris, Oriana Fallaci. Berisikan wawancara Fallaci dengan 14 tokoh yang jadi penentu arah sejarah dunia pada periode 60’an-70’an, mulai dari Henry Kissinger sampai dengan musuh bebuyutannya, Jenderal Giap. Sejak itu,  saya pun bermimpi menjadi seorang  jurnalis. Impian itu pula yang mengantar saya ke jurusan ilmu komunikasi massa di Universitas Indonesia. Bahwa hari ini saya justru jadi pembuat film itu cerita lain lagi, tapi ‘akibat’ dari belajar di UI itulah saya harus magang di sebuah media cetak sebagai persyaratan perolehan nilai salah satu mata kuliah.

Setelah sekian bulan magang dengan beragam penugasan sesuai petunjuk editor, belum ada satu tulisan pun dengan by line atas nama saya. Kalaupun ‘nyaris’, tulisan pendek draft ke sekian hasil perjuangan saya itu tergusur oleh materi yang lebih penting: iklan kematian seorang pengusaha. Sampai suatu pagi, editor saya bertanya dengan mimik serius, “Kau bisa nyanyi?” Saya panik, “Enggak bisa Bang!” Editor saya cengengesan,”Siapa yang suruh kau nyanyi? Kau ikut rapat redaksi kemarin kan? Edisi hari anak-anak? Reporter X sakit, jadi kau yang wawancara Ibu Soed! Coba kau sebut satu judul karangannya?” Saya jawab dengan yakin,“Naik Naik ke Puncak Gunung!” Editor saya mengangguk,”Betul! Kalau kau jawab Begadang itu Rhoma Irama! Berangkat kau sekarang!”  

Berbekal selembar keterangan latar belakang mengenai ibu Soed yang diberikan oleh editor saya, saya pun menuju kediaman ibu Soed. Saya sadar persiapan wawancara dengan beliau sungguh minim, mengingat ini tugas dadakan. Sementara, di sisi lain saya sadar betul wawancara itu adalah peluang saya untuk memperoleh tulisan yang pasti akan dicetak dengan nama saya selaku penulisnya. Dijelaskan di lembaran keterangan, nama asli ibu Soed adalah Saridjah Bintang Soedibjo. Beliau tercatat telah menciptakan hampir 500 judul lagu anak-anak. Pemicunya antara lain karena ibu Soed prihatin melihat anak-anak Indonesia yang kurang gembira akibat kondisi negara yang terus dilanda beragam kericuhan pada kisaran 1925-1941. Saya menandai bagian tersebut sebagai ‘informasi menarik’, karena tak pernah terpikir oleh saya sebelumnya di kala sebuah negara sedang berada dalam keadaan gundah adakah yang sempat memperhatikan anak-anak yang tentunya ikut terdampak? Rupanya peran inilah yang diambil ibu Soed di masa itu. Kemudian, dijelaskan pula sosok ibu Soed yang aktif di masa pergerakan dan aktifitasnya selaku pengajar/pendidik di sejumlah sekolah. Di antaranya ibu Soed pernah menjadi guru musik HIS Petojo.  

Saya mencoba membayangkan bagaimana wawancara itu akan berlangsung, apa yang terjadi bila arah percakapan akan menyinggung soal teori musik? Sebagian dari masa kecil saya diisi dengan kejengkelan terhadap guru piano yang full aturan plus hukuman akibat kemalasan saya berlatih dengan panduan buku Schmidt yang menurut saya amat membosankan. Saya tidak yakin ibu Soed selaku mantan guru musik akan tertarik bicara pada wartawan pemula dengan reputasi suka ‘melawan’ guru piano.  Karena itu, saya menetapkan strategi untuk ‘menggali’ soal pilihan ibu Soed menciptakan lagu untuk anak-anak. Beberapa lagu ciptaan beliau terngiang di kepala saya. Naik Naik ke Puncak Gunung yang diakuinya tinggi sekali, jauh berbeda dari penggambaran yang meromantisir betapa sulitnya perjuangan untuk mencapai puncak gunung versi pecinta alam. Kesan yang ditimbulkan lagu ini justru santai dan menyejukkan hati. Lalu saya mengingat Lihat Kebunku, kok sederhana banget ya? Batin saya mulai sok tahu. Bayangkan, sosok si penyanyi lagu ini mengajak pendengar untuk melihat kondisi kebun di rumahnya. Konon kebun itu penuh dengan bunga aneka warna dan jenis yang semuanya indah, lalu? Selesai. Lalu salah satu hit ikonik ibu Soed, Tik Tik Bunyi Hujan, bicara soal suara hujan menyentuh genting akibat air yang turun dan menjadikan segalanya basah. Juga sederhana sekali kan? Kenapa harus sesederhana itu? Dan kata kunci ‘sederhana’ itupun menjadi pilihan saya untuk berbincang dengan ibu Soed. 

Sejurus kemudian saya duduk di beranda rumah ibu Soed yang sudah menyiapkan teh dan panganan kecil untuk percakapan kami siang itu. Seperti rencana semula, saya mencoba mengulik soal kesederhanaan lagu-lagu beliau. “Sekarang ibu yang tanya Prima, ibunya Prima tanam apa di kebun?” ibu Soed menatap saya sambil tersenyum sabar. “Aduh, apa ya? Kok saya malah lupa,” jawab saya canggung. Aneh, saya sungguh-sungguh tak ingat apa saja yang ditanam di halaman rumah orang tua saya. Kali ini ibu Soed tersenyum lebih lebar,”Justru itu maksud ibu, wajar sekali kalau kita cenderung lupa memperhatikan yang ada di dekat kita. Padahal, yang di sekitar kita itulah yang penting kita amati.” Saya terpana. 

(Bersambung ke bagian-2)

oleh Prima Rusdi, penulis skenario film


Dukung album Popzzle, Tribute to Ibu Soed, dan berikan kesempatan anak-anak kita mendengarkan lagu sesuai usia mereka.

Text

We have something brewing for you

Welcome to our blog.

We are a group of people who believe that Indonesia doesn’t lack creativity, what our creative people lack is support. They have a hard time finding financing for their projects, because they usually try to find it from one or two big investors, government funding, or international funding. This method can only support a fraction of creators, leaving many interesting projects unrealized, even though they have their own audience, their own market (no matter how niched) and their own fans. 

I know this first hand, because I’m one of them.

Right now, we are preparing a website where everyone can take part and support creative projects that they think should be made. The website will be called Wujudkan, and if you go to wujudkan.com right now, you can leave your email address so we know where to contact you when the site’s ready. And it won’t be long anymore :)

We will soon unveil the site, and you can soon see and browse through the interesting projects we have selected for you. Through three simple steps of what we call: FIND - FUND - FUN, you can:

1. FIND projects that you think should be made and tweet or reshare about it through your social network accounts,

2. FUND the projects to make sure it gets made, and

3. Have FUN getting the love and the gratitude and the rewards from the creators!

If you’re a creator who has a project that needs support, send your work through the website, and when it gets featured, all you have to do is CAMPAIGN - COLLECT - CREATE:

1. Do the CAMPAIGN on your project to raise funds through Wujudkan. Set-up the funding target, set-up the campaign duration, then spread the word everywhere, all the time.

2. When you meet (or exceed) your target budget by the end of the campaign, COLLECT the funds.

3. All you have to do now is CREATE! Make the project as you have always visioned it in your mind. But don’t forget to send the rewards you have promised to your supporters. Don’t lose their trust, and for sure they will support your next project!

Wujudkan is about us. Creators become free to bring their ideas into reality, free from constraints of money, and you get to choose which project you’d like to see materialized. With Wujudkan, you can help bring great creative projects to life.

Quote
"If we, citizens, do not support our artists, then we sacrifice our imagination on the altar of crude reality and we end up believing in nothing and having worthless dreams."

— Yann Martel, Life of Pi

Text

To all our respondents, our deepest respect and gratitude

Thank you for being a respondent in our Survey. We have officially close the survey and at the moment we are analyzing the results.

We finally received 1,280 respondents, with 801 valid responses. This is a remarkable number and it is all because of you. We feel humbled, and we thank you from the bottom of our heart.

We will use the result from the survey to brew a new, exciting website. The website will be called: wujudkan.com

Wujudkan is a website that allows Indonesian artists and creators get funding and supports for their projects from their fans/network. We know (and you have also confirmed it in our survey) that Indonesia doesn’t lack creativity, what our creative people lack is support. They have a hard time finding financing for their projects, because they usually try to find it from one or two big investors, government funding, or international funding. This method can only support a fraction of creators, leaving many interesting projects unrealized, even though they have their own audience, their own market (no matter how niched) and their own fans. With Wujudkan we want to enable creators to get funding from their audience or fans by doing pre-sale of their products, exclusive merchandises, or VIP events related to the project. This way, the fan doesn’t become a passive audience at the end of the spectrum anymore, but an active stakeholder in the projects from the creators they like.

We plan to go live in February 2012. When the time comes, we’ll send you another email to let you know of the good news. We hope you’ll take our hand and we walk side by side, together to support creative projects from Indonesia.

Thank you.